"Artikel opini ini sangat membuka wawasan! Penulis berhasil menyajikan sudut pandang yang berbeda dengan argumen yang kuat dan data pendukung yang relevan. Terima kasih sudah menyajikan perspektif yang segar dan mendalam."
”Batang Pohon” cukup besar telah ditegakkan Jokowi dalam 10 tahun meskipun masih ada kekurangan di cabang dan ranting.
Tidak ada isu politik yang lebih kontroversial hari-hari ini melebihi perkara apa saja yang ada sangkut pautnya dengan sosok Presiden Joko Widodo. Jarang kita temui sosok politik di negeri ini yang memicu pro-kontra dalam kadar yang begitu tinggi seperti Jokowi. Ia dilantik dan dirayakan mula-mula sebagai, meminjam istilah majalah Time, harapan baru (a new hope).
Di ujung kekuasaannya, ia mendadak menjadi sosok yang membelah opini publik ke dalam dua kubu yang berseberangan secara frontal. Ada yang melihatnya negatif, ada pula yang memandangnya sebagai presiden dengan warisan besar yang akan dikenang sepanjang masa. Ia berhasil membawa Indonesia melewati masa sulit pandemi Covid-19, untuk kemudian bangkit kembali dengan angka pertumbuhan ekonomi yang amat baik: di atas 5 persen per tahun. Ia, dengan ketegaran mental yang luar biasa, juga berani mengambil langkah sulit: membangun ibu kota baru di luar tanah Jawa, seolah memberikan isyarat penting kepada presiden Indonesia di masa depan bahwa masa depan pembangunan di negeri ini harus diarahkan ke luar Jawa.
Paradoks Jokowi masih belum berhenti di sana. Di satu sisi, Jokowi masih memiliki popularitas yang amat tinggi: 75,6 persen (menurut survei Kompas pada Juni 2024); angka yang jarang, atau malah tidak pernah diraih oleh kepala negara mana pun dalam sistem yang demokratis. Namun, di sisi lain, kritik dan serangan kepada Jokowi dan keluarga, bahkan makian yang paling keras sekalipun, juga berhamburan. Para pencinta Jokowi yang begitu militan di awal periode pemerintahannya mendadak berubah menjadi pengkritik yang amat keras.

Kolom Komentar